Minggu, 20 Mei 2012

Ngelmu Pring (falsafah Bambu)

*Ngelmu pring=ilmu bambu
Pring reketeg
gunung gamping jebol
susu mentheg-mentheg
bokong gedhe megal-megol
pring padha pring
eling padha eling
eling dhirine
eling pepadhane
eling patine
eling Gustine
Pring iku deling
tegese kendel lan eling
Pring padha pring
eling padha eling
Pring iku suket
dhuwur tur jejeg

PERIBAHASA-JAWA

PERIBAHASA-JAWA
Dalam khasanah sastra Jawa dikenal apa yang dinamakan bebasan, sanepan, atau saloka. Merupakan bentuk peribahasa yang berisi makna kiasan sebagai sarana mempermudah penggambaran suatu keadaan. Keadaan bisa berupa fakta realitas yang tidak biasa terjadi, sindiran, sarkasme, dan suatu kenyataan yang paradoksal. Dirangkai dalam gaya bahasa, kata dan kalimat yang indah, lembut agar tidak mudah menyinggung perasaan orang namun mudah sebagai pengingat. Pada saat ini kekayaan sastra Jawa terasa sangat minim, tidak lebih dari bahasa sehari-hari yang diterapkan dalam pergaulan masyarakat Jawa dan lainnya. Namun bila anda ingin menggunakan dalam wacana komunikasi sehari-hari tampaknya masih relevan, dan saya pikir masih bermanfaat untuk megistilahkan atau membahasakan suatu kejadian atau peristiwa yang tidak wajar. Kalimat yang digunakan ibarat pantun yang terkadang terasa lucu dan aneh. Apapun tastenya, berikut ini peribahasa yang dapat kami kumpulkan dari berbagai sumber khasanah pustaka Jawa dan nara sumber langsung. Semoga bermanfaat untuk anda sekalian yang masih peduli kebudayaan lokal asli nusantara maupun bagi yang gemar olah sastra dan budaya lokal.
A
Adhang-adhang tetese embun : njagakake barang mung sak oleh-olehe.
Adigang, adigung, adiguna : ngendelake kekuwatane, kaluhurane lan kepinterane.

Selasa, 20 Maret 2012

Serat Jayabaya

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Tanah Jawa kalungan wesi.
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Kali ilang kedhunge.
Pasar ilang kumandhang.
Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.

Ngelmu Kyai Petruk

Berikut ini pitutur luhur yang sering disampaikan ki dalang dalam pertunjukan wayang kulit melalui tokoh Petruk:


Kuncung ireng pancal putih
Swarga durung weruh
Neraka durung wanuh
Mung donya sing aku weruh
Urip aja duwe mungsuh


Ribang bumi ribang nyawa
Ana beja ana cilaka
Ana urip ana mati.

Precil mijet wohing ranti
Seneng mesti susah
Susah mesti seneng
Aja seneng nek duwe
Aja susah nek ora duwe.

Cintamu Sepahit Topi Miring

Senja di desa Baron
matahari tenggelam dalam kemaron
Lembu betina lari melompat-lompat
dikejar-kejar anaknya yang kecil meloncat
Senja lucu dengan kasih sayang ibu dan anak
langit senja mengandung sapi beranak
terpesona Ranto melihat, ia tertawa bergelak
dan berubah jadi Ranto Gudel, sang pelawak

Cinta Dalam Retrospektif Alkohol Akhir Tahun

bulan menyinari tubuh telanjangmu di kaca jendela kamar
dan Kau jadi kupu kupu
harum mawar liar
terjerat dalam pelangi mimpi sepiKu.
tersenyumlah pada cicak yang tidur dalam kelam rambutMu.

aku minum bir bersama purnama.
aku di trotoar jalan, dia di atas atap rumah.
aku tak suka pada mereka yang masuk menemu malam dan ribut menantang bulan.
seorang pelacur menawarkan gerhana bulan.